
Bang Mamad sudah lebih dari sepuluh tahun hidup di antara dering telepon, kabel kusut, dan panel-panel PBX yang berdengung seperti lebah. Orang-orang mengenalnya sebagai teknisi yang bisa dipanggil kapan saja—pagi buta, tengah malam, atau saat hujan Jakarta turun tanpa ampun. Statusnya freelance, tapi reputasinya sudah seperti teknisi tetap di banyak kantor kecil dan ruko-ruko di ibu kota.
Pagi itu, seperti biasa, ia bangun sebelum alarm ponselnya berbunyi. Kontrakan sempitnya di Tanah Abang masih remang-remang. Cat dinding mulai mengelupas di beberapa sudut, dan kipas angin tua berputar pelan di langit-langit. Bang Mamad duduk di tepi kasur tipis, mengusap wajahnya sebentar, lalu menarik napas panjang.
“Hari baru lagi, Mad,” gumamnya pelan.
Ia bukan tipe orang yang banyak mengeluh. Hidup freelance sudah mengajarinya bahwa stabilitas itu barang mahal. Kadang dalam seminggu orderan penuh, kadang sepi seperti kantor kosong saat libur panjang. Tapi selama sepuluh tahun ini, ia selalu bertahan.
Setelah salat subuh, Bang Mamad langsung menjerang air untuk kopi hitam. Tidak ada gula. Ia sudah terbiasa pahit. Sambil menunggu air mendidih, ia membuka tas kerjanya—tas selempang hitam yang sudah agak pudar warnanya. Di dalamnya tertata rapi obeng berbagai ukuran, tang potong, LAN tester, tone generator, dan beberapa konektor RJ-11 dan RJ-45.
Ia selalu percaya, teknisi yang baik harus siap sebelum dipanggil.
Ponselnya bergetar tepat saat ia menyesap kopi pertama.
Nomor tak dikenal.
“Assalamu’alaikum, Bang Mamad?” suara di seberang terdengar tergesa.
“Wa’alaikum salam. Iya, saya Mamad.”
“Ini dari kantor ekspedisi di Kemayoran, Bang. PBX kami mati total sejak tadi malam. Bisa datang hari ini?”
Bang Mamad melirik jam dinding.
“InsyaAllah bisa. Saya berangkat habis jam delapan.”
Rezeki pagi, batinnya.
—
Motor bebek tuanya terparkir di depan kontrakan. Warnanya dulu merah, sekarang lebih mirip merah lelah. Tapi mesinnya masih bandel—itulah yang penting bagi Bang Mamad. Ia mengelus jok sebentar sebelum menyalakan mesin.
“Masih kuat ya, kita,” katanya setengah bercanda.
Jalanan Tanah Abang sudah mulai ramai. Pedagang kaki lima membuka lapak, ojek online hilir mudik, dan klakson bersahut-sahutan seperti orkes yang tidak pernah latihan. Bang Mamad sudah hafal ritme kota ini. Ia menyelip di antara mobil dengan tenang, tidak ugal-ugalan, tapi juga tidak ragu.
Sepuluh tahun naik motor keliling Jakarta membuat instingnya tajam.
Di lampu merah, ia sempat teringat masa awal dulu.
Waktu itu ia masih jadi teknisi junior di sebuah vendor telekomunikasi kecil. Gaji pas-pasan, jam kerja panjang, dan sering dimarahi supervisor. Tapi justru di situ ia belajar banyak: membaca diagram, tracing kabel, sampai menghadapi klien yang panik karena telepon kantor mati.
Sampai akhirnya, sekitar sepuluh tahun lalu, ia nekat keluar.
“Freelance aja, deh. Bismillah,” katanya waktu itu.
Keputusan yang menakutkan, tapi ternyata jadi jalan hidupnya sampai sekarang.
—
Kantor ekspedisi di Kemayoran berada di ruko tiga lantai. Bang Mamad datang tepat waktu. Seorang admin langsung menyambut dengan wajah cemas.
“Bang Mamad ya? Aduh, telepon kantor mati semua sejak tadi malam. Bos sudah marah-marah.”
Bang Mamad tersenyum tipis.
“Tenang, Mbak. Kita cek dulu.”
Ia langsung menuju ruang server kecil di belakang. Begitu pintu dibuka, ia sudah mencium sesuatu yang familiar—bau komponen elektronik yang agak hangus.
Hmm.
Ia jongkok di depan rack PBX. Lampu indikator beberapa port mati. Tangannya bergerak cepat, membuka cover, mengecek power supply, lalu menyambungkan tester.
Beberapa menit pertama ia hanya diam. Fokus penuh.
Admin di belakangnya mulai gelisah.
“Gimana, Bang?”
Bang Mamad mengangkat kepala sedikit.
“Power supply-nya drop. Kayaknya semalam listrik sempat naik turun.”
“Waduh… bisa diperbaiki?”
Ia mengangguk pelan.
“Masih bisa. Tapi butuh waktu.”
Dan begitulah Bang Mamad bekerja—tenang, sistematis, tidak banyak drama. Tangannya cekatan mengganti modul, membersihkan konektor, lalu merapikan ulang kabel-kabel yang semrawut.
Baginya, panel PBX itu seperti teka-teki. Selalu ada logika. Selalu ada solusi.
Satu jam kemudian, lampu indikator mulai menyala normal.
Ia mengangkat gagang telepon meja.
“Coba panggil ekstensi 102,” katanya.
Admin menekan tombol dengan tegang.
Tring… tring…
Telepon di meja lain berbunyi.
Wajah admin langsung berbinar.
“Hidup! Bang, hidup!”
Bang Mamad hanya tersenyum kecil. Ia sudah terlalu sering melihat reaksi seperti itu.
—
Menjelang siang, pekerjaan selesai. Admin menyerahkan amplop pembayaran.
“Terima kasih banyak ya, Bang. Kalau ada apa-apa nanti kami hubungi lagi.”
Bang Mamad mengangguk sopan.
“Siap, Mbak.”
Di parkiran, ia duduk sebentar di motor sebelum menyalakan mesin. Angin siang Jakarta terasa panas, tapi ia sudah kebal.
Freelance itu tidak selalu mudah.
Kadang klien telat bayar. Kadang harus naik tangga darurat gedung tinggi hanya untuk cek kabel putus. Kadang dipanggil tengah malam karena “urgent” yang ternyata cuma salah setting.
Tapi ada satu hal yang ia suka:
Kebebasan.
Tidak ada absen pagi. Tidak ada atasan yang mengawasi tiap menit. Yang ada hanya reputasi dan kepercayaan klien.
Dan selama sepuluh tahun ini, Bang Mamad menjaga itu mati-matian.
—
Sore hari, ia sudah kembali ke kontrakan. Motor diparkir, tas kerja digantung di paku dekat pintu. Ruangan kecil itu terasa hangat oleh cahaya matahari senja yang masuk lewat jendela.
Ia duduk di lantai, membuka dompet, dan menghitung uang hasil kerja hari ini.
“Alhamdulillah,” ucapnya pelan.
Tidak mewah, tapi cukup.
Cukup untuk bayar kontrakan bulan depan.
Cukup untuk bensin motor.
Cukup untuk makan.
Ponselnya kembali bergetar.
Klien lama.
“Bang Mamad, minggu depan bisa maintenance rutin?”
Ia tersenyum.
“Bisa, Pak. Seperti biasa.”
Telepon ditutup. Ia bersandar ke dinding, menatap langit-langit kontrakan yang sederhana itu.
Sepuluh tahun sudah ia menjalani hidup seperti ini.
Belum punya rumah sendiri.
Belum punya mobil.
Masih ngontrak.
Masih naik motor.
Tapi Bang Mamad tidak merasa gagal.
Karena setiap panel yang berhasil ia hidupkan kembali, setiap telepon kantor yang kembali berdering, dan setiap klien yang percaya padanya—itu semua adalah bukti bahwa ia masih berdiri.
Masih dibutuhkan.
Masih berjalan.
Ia mengambil cangkir kopi yang sudah dingin, meneguk sisa pahitnya, lalu tersenyum tipis.
“Besok gas lagi, Mad.”
Dan di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang tidak pernah benar-benar tidur, seorang teknisi PBX freelance bernama Bang Mamad bersiap menjalani hari berikutnya—dengan motor tuanya, tas perkakasnya, dan keyakinan sederhana bahwa selama masih ada kabel yang putus, selama itu pula rezekinya akan selalu ada.
===
Jika Anda membutuhkan layanan teknisi PBX, hubungi Bang Mamad, telepon / whatsapp 0815-9191-699.
Melayani jasa pasang, setting, instalasi, service berbagai merk PBX baik analog PBX (PABX) maupun berbasis internet protocol (IP-PBX), seperti Panasonic, NEC, Transtel, Ericsson-LG, Nitsuko, Goldstar, LG-Nortel, LG, Vitaphone, Excelltel, Favorite, Yeastar, Dinstar, Synway, Newrock, OpenVox Grandstream dan lainnya.


Tinggalkan Balasan