
Pagi berikutnya, Bang Mamad sudah kembali bangun sebelum matahari benar-benar naik. Kebiasaan itu seperti alarm alami di tubuhnya—bahkan tanpa ponsel pun ia jarang kesiangan. Udara di kontrakan Tanah Abang masih agak lembap sisa hujan semalam. Dari luar terdengar suara pedagang sayur lewat, memanggil dengan nada yang sudah sangat akrab di telinganya.
Bang Mamad duduk di tepi kasur, meraih ponsel yang semalam ia cas di dekat bantal.
Ada tiga notifikasi WhatsApp.
Satu dari klien lama.
Satu dari nomor baru.
Satu dari grup teknisi.
Ia buka yang nomor baru dulu.
“Bang Mamad, dapat nomor dari Pak Rudi. PBX kantor kami sering drop ekstensi. Bisa dicek hari ini?”
Bang Mamad mengusap dagunya pelan. Rezeki lagi.
Ia membalas singkat, gaya khasnya.
“Bisa, Pak. Lokasi di mana?”
Balasan datang cepat.
“Cakung. Kalau bisa pagi ya, Bang. Lagi banyak komplain internal.”
Bang Mamad langsung berdiri.
“Gas lagi hari ini,” gumamnya.
—
Setelah rutinitas pagi dan kopi hitam tanpa gula, ia kembali ke tas kerjanya. Seperti biasa, ia tidak pernah berangkat tanpa cek ulang. Obeng minus… ada. Obeng plus… ada. Punch down tool… masuk. LAN tester… aman. Tone generator… siap.
Pengalaman sepuluh tahun mengajarinya satu hal penting: masalah di lapangan sering tidak terduga. Lebih baik tas berat daripada harus balik karena alat kurang.
Motor bebek tuanya menyala dengan suara serak yang familiar. Bang Mamad menarik jaket tipis, memasang helm, lalu meluncur keluar dari gang sempit kontrakannya.
Perjalanan ke Cakung tidak pernah benar-benar santai.
Jakarta pagi itu sudah mulai padat. Truk kontainer dari arah pelabuhan, bus kota, ojek online, semua berebut ruang. Tapi Bang Mamad punya gaya berkendara yang sabar. Ia tidak suka zig-zag berlebihan.
“Yang penting sampai, bukan gaya,” prinsipnya sejak dulu.
Di lampu merah Pulogadung, ponselnya bergetar lagi. Ia menepi sebentar.
Pak Hendra menelepon.
“Bang Mamad sudah jalan?”
“Sudah, Pak. Perkiraan setengah jam lagi.”
“Siap, Bang. Kami tunggu. Ini user sudah pada ribut,” suara Pak Hendra terdengar setengah panik.
Bang Mamad hanya tersenyum tipis.
Ia sudah hafal nada seperti itu.
Biasanya kalau kantor bilang “user sudah ribut,” artinya masalahnya sudah berhari-hari dipendam.
—
Gedung PT Sinar Logistik lebih besar dari perkiraannya. Bukan ruko kecil seperti kemarin. Ini gedung kantor tiga lantai dengan halaman parkir cukup luas.
Begitu Bang Mamad turun dari motor, seorang pria berkemeja langsung menghampiri.
“Bang Mamad ya? Saya Hendra.”
Mereka berjabat tangan.
“Masalahnya gimana, Pak?” tanya Bang Mamad langsung to the point.
Pak Hendra menghela napas panjang.
“Ekstensi sering putus sendiri. Kadang bisa nelpon keluar, tapi internal suka mati. Vendor lama kami susah dihubungi.”
Bang Mamad mengangguk pelan.
Kasus klasik.
“PBX merk apa, Pak?”
“Panasonic lama, Bang. Sudah hampir sepuluh tahun kayaknya.”
Bang Mamad makin paham medan.
“Yuk kita lihat.”
—
Ruang server ada di lantai dua. Begitu pintu dibuka, hawa dingin AC langsung menyergap. Rack server berdiri rapi, tapi mata Bang Mamad langsung tertarik ke satu hal:
Kabel.
Banyak sekali kabel.
Dan… semrawut.
Ia mendekat pelan ke panel PBX. Tangannya otomatis menyentuh bundelan kabel yang diikat seadanya.
Dalam hati ia bergumam: ini mah bukan cuma drop, ini nunggu chaos.
“Sudah pernah ada yang utak-atik ya, Pak?” tanyanya sambil tetap fokus.
Pak Hendra kelihatan agak malu.
“Iya… dulu pernah ada teknisi panggilan. Katanya sudah beres.”
Bang Mamad hanya mengangguk kecil. Ia tidak pernah suka menjelekkan teknisi lain di depan klien. Itu prinsip profesionalnya.
Ia mulai dari langkah standar:
Cek log.
Cek port.
Cek voltage line.
Beberapa menit pertama ruangan itu hening. Hanya suara kipas server yang berdengung pelan.
Lalu Bang Mamad menemukan sesuatu.
“Pak, ini banyak pair kabel yang sudah mulai loose.”
Pak Hendra mendekat.
“Maksudnya?”
Bang Mamad menunjukkan punch block.
“Ini koneksi tembaganya sudah kendor. Makanya ekstensi suka drop. Kontaknya nggak stabil.”
“Wah… bisa diperbaiki?”
Bang Mamad tersenyum tipis.
“Bisa. Tapi… butuh waktu. Ini harus saya rapikan sekalian.”
Pak Hendra langsung mengangguk cepat.
“Silakan, Bang. Yang penting stabil.”
—
Jam demi jam berlalu.
Bang Mamad duduk bersila di depan rack, fokus seperti biasa. Tangannya bergerak cepat tapi rapi—membuka, punch ulang, memberi label, merapikan jalur kabel satu per satu.
Keringat mulai muncul di pelipisnya meski ruangan dingin.
Ini bukan pekerjaan instan.
Ini pekerjaan sabar.
Sesekali staf kantor lewat dan melongok.
“Sudah bisa, Bang?”
Bang Mamad menjawab santai tanpa menoleh.
“Pelan-pelan, Pak. Biar sekalian bener.”
Di dalam kepalanya, ia sedang menyusun peta jalur ekstensi. Sepuluh tahun di dunia PBX membuat otaknya seperti punya GPS sendiri untuk kabel.
Sekitar dua jam kemudian, ia berdiri dan meregangkan badan.
“Pak Hendra, kita test ya.”
Mereka menuju meja operator.
Bang Mamad mengangguk.
“Coba call ekstensi 201.”
Operator menekan tombol.
Tring…
Nyambung.
“Sekarang 305.”
Tring…
Nyambung lagi.
Pak Hendra mulai terlihat lega.
“Coba outbound, Pak,” kata Bang Mamad.
Operator menekan nomor luar.
Tuut… nyambung mulus.
Pak Hendra langsung tersenyum lebar.
“Wah, Bang… ini sudah jauh lebih stabil!”
Bang Mamad tidak langsung puas.
Ia angkat handset, test beberapa line sendiri. Pastikan tidak ada noise. Tidak ada delay. Tidak ada drop.
Baru setelah itu ia mengangguk mantap.
“Sekarang sudah aman, Pak. Tapi…”
Pak Hendra langsung tegang lagi.
“Tapi apa, Bang?”
Bang Mamad menunjuk rack.
“PBX ini sudah tua. Kalau traffic makin tinggi, nanti bakal mulai rewel lagi. Saran saya mulai siapin upgrade pelan-pelan.”
Pak Hendra terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan.
“Iya… memang sudah kepikiran sih.”
Bang Mamad tidak memaksa. Ia tahu timing.
—
Menjelang sore, pekerjaan selesai total. Kali ini bukan cuma perbaikan—sekalian penataan ulang.
Rack terlihat jauh lebih rapi.
Label terpasang.
Jalur kabel jelas.
Pak Hendra sampai memfoto rack sebelum dan sesudah.
“Bang, jujur ya… ini paling rapi yang pernah saya lihat,” katanya.
Bang Mamad hanya tersenyum kecil.
“Biar nanti kalau ada apa-apa gampang tracing, Pak.”
Amplop pembayaran kembali berpindah tangan. Tapi yang lebih penting bagi Bang Mamad adalah kalimat berikutnya.
“Bang Mamad… mulai sekarang maintenance di sini pegang abang aja ya.”
Kalimat sederhana.
Tapi bagi teknisi freelance, itu seperti kontrak tak tertulis.
Bang Mamad mengangguk hormat.
“Siap, Pak. InsyaAllah saya standby.”
—
Langit Jakarta sudah mulai jingga saat Bang Mamad keluar dari area kantor. Ia duduk sebentar di atas motor sebelum menyalakan mesin.
Hari ini capek.
Tapi hatinya ringan.
Order jalan.
Klien nambah.
Reputasi naik sedikit lagi.
Motor tuanya meraung pelan saat ia mulai meninggalkan Cakung, menyusuri jalan pulang ke Tanah Abang yang panjang.
Di lampu merah, ia menatap lurus ke depan.
Sepuluh tahun lalu ia cuma teknisi junior.
Sekarang?
Masih teknisi.
Masih naik motor.
Masih ngontrak.
Tapi satu hal tidak berubah—Ia masih bertahan.
Dan selama telepon kantor di Jakarta masih butuh untuk berdering, Bang Mamad tahu… perjalanannya masih jauh dari selesai.
Motor merah tuanya melaju menembus senja, membawa seorang teknisi PBX freelance yang sederhana—tapi diam-diam sudah menjadi andalan banyak kantor di kota yang tidak pernah benar-benar tidur ini.
===
Jika Anda membutuhkan layanan jasa service PBX, hubungi Bang Mamad, telepon / whatsapp 0815-9191-699.
Melayani jasa pasang, setting, instalasi, service berbagai merk PBX baik analog PBX (PABX) maupun berbasis internet protocol (IP-PBX), seperti Panasonic, NEC, Transtel, Ericsson-LG, Nitsuko, Goldstar, LG-Nortel, LG, Vitaphone, Excelltel, Favorite, Yeastar, Dinstar, Synway, Newrock, OpenVox Grandstream dan lainnya.


Tinggalkan Balasan